1. Lubang

    Blue5torm.Arya: hallo bos :D

    Dirga_Hd1ptra: yo! Ya

    Blue5torm.Arya: knapa lu?

    Dirga_Hd1ptra: F**k, babeh gw cari gara2 nih

    Blue5torm.Arya: :))

    Blue5torm.Arya: bukannya lu yang bikin Ga?? sampe diskors seminggu  <:-P, slamet ye

    Blue5torm.Arya: masi untung bukan ngobat lu yang ketauan,

    Dirga_Hd1ptra: Asu! gw ga pernah make ‘obat’ ye

    Dirga_Hd1ptra: itu herbal coy, 100% nature. jamur tu semi legal di Indo masuknya gol. zat adiktif

    Blue5torm.Arya: Oh ya? emang gw nanya?

    Dirga_Hd1ptra: brengsek luh Ya

    Blue5torm.Arya: :))

    Blue5torm.Arya: cup cup,jadi diapain lu sma babeh? disapih Ga??

    Dirga_Hd1ptra: grounded man, ga bisa keluar kamar di kunciin

    Dirga_Hd1ptra: berasa penjara

    Blue5torm.Arya: lah kalo mau kencing?

    Dirga_Hd1ptra: kan ada kamar mandi di kamar gw, perasaan waktu itu lusempet main ke rumah gw kan?

    Blue5torm.Arya: lupa, lagian penting apa gw inget2 gituan?

    Dirga_Hd1ptra: dongo, tadi nanya

    Blue5torm.Arya: is signed out at 22:46


    “Eh setan, dc dia” batin Dirga sembari melepas headset mp3 playernya. Hening, cuma sesekali ada suara motor di kejauhan. Berarti Ayah dan ibunya sudah tidur. Sedangkan kakak perempuannya, Mei sedang ‘tugas’ pelatihan pegawai di Batam.

    Hari masih sore menurutnya, matanya belum bisa terpejam tapi sejak siang tadi tidak banyak hal yang bisa dilakukannya Tv, console game, dan laptopnya disita oleh ayahnya sejak tadi pagi, sejak skorsing 3 hari dari sekolahnya dimulai. Skorsing konyol menurutnya.

    “Emang, tuh kepsek ga pernah dikatain apa? Siapa coba yang ga keceplosan, kalo dimarahin segitunya cuma gara-gara ngerokok? pake bawa-bawa orang tua segala, dasar ga santai”

    Setelah capek kilas balik sembari sumpah serapah dalam hatinya, ia kembali menatap nanar ke langit-langit kamarnya. Sudah tidak berminat ia mendengarkan lagu, main game di handphonenya apalagi. Chatting atau sms pun males.


    “Tetep reputasi gw harus dijaga. Cukup si Arya bloon itu aja yang tau gw di pasung begini.”

    Duduk di tempat tidurnya, dan memandang seluruh ruangan mencari hal menarik yang bisa dilakukannya sampai mengantuk. Saat itulah ia menemukan sebuah noda hitam kecil di dinding kamarnya, di bagian yang biasanya tertutup layar Tv nya. Sejak ia mencoba magic mushroom, mengamati pori-pori tangannya, pola marmer, sampai cat dinding menjadi kebiasaan yang ia lakukan saat melamun.

    Ia mendekati noda kecil tersebut, ternyata itu bukanlah noda melainkan lubang. Sebuah lubang kecil bulat sempurna, tidak lebih besar dari lubang semut, namun ia yakin lubang itu cukup dalam. Ia mengambil pensil mekanik, mengeluarkan isi pensilnya yang rapuh dan menusukkannya pelan-pelan tanpa patah kedalam lubang tersebut. Belum sampai setengah isi pensil itu masuk, tiba-tiba lubang itu seolah menarik masuk isi pensil sampai tak terlihat. Dirga pun terlonjak mundur, sedikit tercekat bercampur heran. Ia mencari benda lain di tasnya. jangka. Kemudian ia maju dan menusukkan jangka ke dalam lubang itu. Ternyata benar, ujung jangkanya ditarik masuk kedalam. Tenaga, entah binatang apa didalam lubang itu memiliki kekuatan diluar nalarnya. Kekuatan kedua tangannya tak mampu mengimbanginya. Kini bagian badan besi jangka tersebut tegak horisontal menggantung di dinding, menutupi lubang tersebut.

    Semakin heran ia membuka pintu kamar mandinya, ruangan yang berada di balik dinding berlubang tersebut. Dirga menekan sakelar lampu. Lalu telunjuk dan matanya mengamati menyusuri pola keramik tepat di balik daerah lubang tersebut. Nihil tak ada apapun yang bisa menjelaskan fenomena lubang tersebut. Entah binatang, atau hukum fisika apapun yang bisa memuaskan rasa ingin tahunya berada di dalam dinding tersebut. Harus dibongkar kalau mau terungkap. kali ini bibirnya menyunggingkan senyum.

    “si anak bloon harus tau, Kejaiban dunia yang cuman ada di kamar ini!”

    “Tu~uut.. tu~uut.. klik!”

    “Ya?” Arya menjawab dari seberang sana.

    “Ya. Ya. Gw nemu sesuatu! Tadi gw iseng ga bisa tidur. Trus ada lobang di dinding gw. Benda yang bisa gw colok malah masuk ditarik ke dalemnya. sekarang gw tutup jangka…”

    “Tunggu, lu nelpon ganggu gw tidur cuma buat cerita ada lobang dinding kamar lu?” Potong Arya.

    “Alaah.. ngomong tidur, paling juga lagi ngenet yang engga-engga luh”

    “Trus lobang lu colok-colok apa namanya?” Arya memutar pembicaraan.

    “Wah.., gini nih dengerin..” Dirga pun memulai cerita semenjak berakhirnya pembicaraan mereka di program messenger sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Arya.

    “Oooh…”

    “Ah oh ah oh, berasa ngerti apaan aja luh.” Sahut Dirga.

    “trus menurut lu itu apa?” Tanya Arya.

    “Dugaan gw bekas pipa aer atau gas jaman dulu. Nih rumah kan bekas rumah tua bokapnya kakek gw, sebelom direnov bokap pernah dibiarin kosong dua puluh taun lebih. Mungkin salah satu bekas pipanya ketemu sama ruang bertekanan rendah. Makanya jadi kaya ada efek vacuum cleaner gitu.”

    “Hahaha, sok ilmiah lu. Pas belajar fisika aja lu tidur, pake ngomong efek vakumlah, tegangan rendah segala dibawa-bawa.”    

    “Eh gini-gini logika gw jalan cuk! Teori gw yang lain ada serangga entah jenis apa yang bersarang disitu, eh tapi kalo jangka pun sampe nangkring gini…” “KLOTAK!” Belum sempat Dirga melanjutkan dirinya dikagetkan oleh suara benda jatuh.

    “Anjing! Ya! Ya! Jangkanya jatoh, tapi jarum besinya ilang! Ga mungkin kalo binatang. Kuat banget. Pasti pipa entah apa itu.”

    “Nah lo! Jangan-jangan terjadi anomali black hole di kamar lo, atau mungkin masih sekedar wormhole..”

    “Ngemeng dah lu black hole black hole. Fantasi lu tuh yang ngawang-ngawang.” Ujar Dirga sembari melihat lekat-lekat ujung jangka yang raib dan lubang misterius bergantian. Terdiam beberapa saat, sebuah ide melintas di pikirannya.

    “Oh, coba gw bongkar Ya. Kebetulan ada obeng sama palu nih.”

    “Buset, tidur gih lu. Iseng banget sih. Kalo ternyata mistis gima..-PIP.” Belum selesai kalimat Arya, Dirga sudah memutuskan pembicaraan.

    “Dasar anak bloon. Nilai pelajaran aja yang bagus, giliran mistis-mistisan percaya.” Dirga jadi teringat, sobatnya itu meskipun selalu masuk posisi rangking lima besar disekolah  bukanlah termasuk anak-anak kutu buku yang disayang guru. Arya lebih suka nongkrong di warung, merokok sambil membicarakan teori-teori absurd tentang alien, perkumpulan rahasia, mahluk gaib, dunia paralel dan pengetahuan-pengetahuan fiksi lainnya yang dia percayai mentah-mentah dari macam film, komik, game, dan novel-novel koleksinya.

    “TOK! TOK!” Dirga sendiri berawal dari kebiasaan suka nongkrong, kini sering diajak hiking oleh teman-teman dari klub pencinta alam sekolahnya. Meskipun sebenarnya Dirga sendiri tidak pernah terdaftar jadi anggota. Dia berpikir mungkin akan menempuh karier pembawa acara petualangan di TV atau mungkin fotografer alam bebas, meskipun sampai sekarang belum tau harus melanjutkan kuliah dimana. Atau mungkin dibidang lain.Entahlah pikirnya, yang pasti untuk saat ini ia harus menyelesa..

    “SROOTT!!” Lamunan Dirga buyar seketika. Ketukan palunya terhenti. Obeng yang dipegang tangan kirinya sedetik lalu kini ikut tersedot masuk. Dan kini lubang itu menjadi sebesar koin seratus rupiah. Masih tetap bulat sempurna dan hitam legam tidak terlihat apa-apa, bahkan tekstur kasar semen dibaliknya. Bagai tak terpengaruh cahaya lampu kamar yang menyinari. Perlahan Dirga mendekatkan matanya, tak terlihat apa-apa. Tak terjadi apa-apa. Bahkan pikiran buruk bahwa bola matanya akan ikut tersedot aliran udara yang berada didekat lubang pun dirasa tidak bakal terjadi.

    “Sekarang makin aneh.” Pikirnya, seraya mengambil senter LED-nya untuk menerangi lubang. Kemudian kejanggalan itu tidak berkurang setelah ia mengarahkan sinar senter kedalam lubang. Ia seperti menerangi sebuah ruangan gelap gulita dari lubang kunci, ia tahu sinar tersebut masuk tetapi tetap tak terlihat, seakan dasar lubang itu dan luas rongganya lebih panjang dari jangkauan sinar senternya. Tapi ia tahu hal itu mustahil sebab ruangan kamar mandi di balik dinding masih belum dimatikan lampunya.

    Ia kemudian menutupi lubang dengan telapak tangannya. Benar, nihil. tidak ada gaya sedot yang dirasakan. Tapi untuk mencoba memasukkan jemarinya, ia masih segan. Dirga pun akhirnya merebahkan diri di atas kasurnya, menatap langit-langit lalu kembali memandangi lubang. Merasa heran sendiri, tidak habis pikir mengapa ia jadi begitu tertarik dengan lubang konyol di dinding.

    Matanya kian berat, kesadaran Dirga pun beralih. Ia terlelap.


    ***

    Dirga terbangun. Matanya mengerjap karena perih, menyesuaikan dengan terangnya ruangan. Ini baru pertama kalinya terjadi. Setelah mulai bisa melihat dengan jelas, ia baru sadar dari mana sumber cahaya itu berasal. Lubang itu.

    Bagaikan lampu sorot halogen, lubang yang tadinya gelap gulita itu kini memancarkan berkas-berkas cahaya. Saking terangnya Dirga bahkan tak mampu memandang langsung ke lubang itu.

    Dengan relfeks ia menekan tombol hijau di handphone-nya, menghubungi caller ID paling atas.

    “Mimpi..” Dirga membatin, kemudian menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya dan kembali memejamkan mata.

    ***

    Dirga kembali mengerjapkan mata.Tidurnya terganggu dering telepon yang entah sudah keberapa kali ia dengar dalam keadaan setengah sadar. Angak digital di handphonenya menunjukkan jam setengah empat pagi.

    “Bangke, ngapain lu nelpon-nelpon gw jam seginih?”

    “Lah, elu yang nelpon gw tadi.” Di seberang suara Arya terdengar setengah kesal.

    Dirga terdiam sejenak, mengingat sesuatu. Menatap dinding kosong yang kemarin tertutup tv. “Maksudnya?”

    “Maksud apaan sih? lu kesambet ya gara gara bongkar-bongkar lobang keramat?”

    “Lobang..” Dirga berkeringat dingin.

    “Ya, gw ga yakin gw tadi ngobrol sama lu itu mimpi atau bukan, tapi kalau emang bener nyata ini lebih ga masuk akal..”

    “Heh?” Arya bersuara.

    “Kalo bener kita tadi malem ngobrol soal lobang aneh di dinding kamar gw, for your information, sekarang gw lagi di depan dinding itu. Putih bersih tanpa lobang, bahkan bekas paku aja ga ada.”

    Giliran Arya terdiam.

    “Oke Ga. Gw kasi tau terkadang wormhole emang bisa pindah tempat.” Arya bicara dengan serius.

    “Jah. teori lu… ANJIING!!!” Dirga menoleh dan kaget tidak keruan. Ia melihat lubang yang hampir sama di dinding seberang, tapi kali ini sudah lebih besar dari kepalan tangannya. Dari dalam lubang itu kini mengalir air membasahi lantai. Belum habis herannya  saat sesuatu bergerak keluar, seperti bola tenis tapi ditutupi bulu. Menggeliat kemudian mengepakkan sayapnya.

    Seekor dan disusul seekor lagi. Kini dua ekor burung kecil terbang berputar dekat langit-langit kamarnya. Dirga mengambil kaus bekas olahraganya yang belum dicuci dan segera menyumbat lubang itu. Saat itulah sebuah tangan dengan jemari lentik menggapai keluar dari dalam lubang. Dirga terhenti bergerak.

    ***  

    Arya terbangun dengan handphone masih di dalam gengamannya. Ada sebuah pesan masuk. “Kenapa gak bilang luh kalo di dalem wormhole ada cw? Gokil sob!!”

    Alisnya berkerut. Sepertinya Dirga tidak pernah mendengarkan cerita-ceritanya. “Memangnya dia pikir apa itu wormhole??” batinnya.

    Namun sejak saat itu Dirga tak pernah lagi masuk sekolah. Hanya ada bekas-bekas telapak kaki di dinding kamarnya. Sebagian tidak salah lagi milik Dirga sendiri, sedangkan sebagian yang lain sepasang telapak kaki kecil mungkin milik anak-anak. Atau, atau memang sepasang lagi milik sesosok gadis. Entahlah, yang jelas pernah ada secercah cahaya yang selalu menerangi berasal dari sebuah lubang sebesar jarum di kamar itu. Namun kini orang tua Dirga pindah dan rumah itu direnovasi kembali.

     

    cerita

  2. Di Bumi Saat Ini

    Siang ini angkot menuju Lembang berjalan pelan, seorang supir berikut tujuh orang penumpangnya berkeringat diliputi terik matahari dan saling diam.  Salah seorang penumpangnya teringat kejadian pada suatu malam didaerah ini sekitar 2 bulan lalu. Saat itu terasa lapar dan letih yang lebih dari saat ini. Saat ia memutuskan untuk berjalan kaki dalam dinginnya malam, dari terminal Ledeng sampai Terminal Dago atas karena saat itu ia merasa benar-benar tidak memiliki apa apa… Dua jam termenung dengan kaki terus melangkah, sampai tiba di Dago mendapatkan kembali motornya dan memiliki sedikit uang untuk sekedar menyalakan sebatang rokok. Duduk sebentar beristirahat melihat langit dan lampu lampu kota, kemudian mengetikkan kata-kata yang mengalir di dalam benak menjadi data dalam memory digital notes hp-nya:

    Di Bumi Saat Ini

    sebatang pertama dibakar,

    terdiam di singgasana teratas

    terpuncak tubuh diatas fisik dunia

    biru langit berganti pendar orion

    dalam kelam cermin diri pada langit

    sebatang kemudian dibakar,

    kedut nadi kehidupan malam pun menyala

    refleksi langit malam diatas atlas

    ribuan terrabyte berkelana

    pada dendrit neuron kabel dan nirkabel

    sebatang akhirnya dibakar,

    entah menunggu atau ditunggu

    berfikir acak atau terarah

    mati atau hidup

    pada akhirnya…

  3. Kunjungan

    Diriku bergelung di atas sofa tua itu, dengan punggung menyandar dan menekuk kedua lutut berlapis selimut hangat. Diriku memangku sebuah buku tua bersampul kulit dan membalik satu demi satu halaman tua kekuningannya. di dekatku sebuah perapian bergemeretak, melayangkan bara api kecil yang segera padam sebelum menyentuh lantai. Sedangkan tidak jauh di luar dalam kepekatan malam, dahan-dahan pohon yang tak lagi berdaun saling bergesekan satu sama lain, terhempas angin dingin awal November. Membuatku teringat akan malam serupa malam ini, sekitar empat tahun yang lalu.

    ***

    Malam empat tahun yang lalu tidak terlalu berbeda, hanya saja hujan lebat sudah turun semenjak sore membuat udara menjadi lebih dingin beberapa derajat. Cahaya bulan tertutup awan mendung. Dan aku sedang mencuci piring bekas makan malam ketika terdengar suara ketukan di pintu depan.

    Aku tinggal di sini sendirian, sedang tidak menunggu seorang pun dalam cuaca buruk dan selarut ini. Merasa terganggu dan ogah-ogahan, aku membukakan pintu depan.
    Disana berdiri seorang wanita tua, yang tersenyum namun terlihat lelah. Mengigil kedinginan dalam naungan payung coklat tua. Aku langsung mempersilakannya masuk.

    Beliau memperkenalkan diri, asalnya dari kota sebrang kemudian mulai bercerita tentang cucunya yang baru melahirkan, serta mobilnya yang mogok dalam perjalanan antar kota tepat di depan rumahku. Diluar dugaanku nenek satu ini ternyata ramah dan senang tersenyum. Aku yang tadinya sudah bersiap tidur menjadi bersemangat cerita berbagai macam hal dengannya. Ditemani dua cangkir teh hangat, perapian, dan sofa-sofa ku yang nyaman, aku bercerita tentang pekerjaanku sebagai redaktur muda majalah kesehatan, tentang alergiku, sampai eksperimen pribadiku tentang alam mimpi.

    ***

    Diriku meletakkan buku kulit itu -buku harian lama yang aku tulis. Dan beranjak ke ruang makan. Mengambil sebuah kaleng makanan kucing lalu menuangkan isinya pada mangkuk plastik di lantai, kemudian dua ekor kucing berbulu hitam dan putih bergegas datang melahap isinya.

    ***

    Ingatanku kembali pada malam itu, berjam-jam sudah kami berbicara. Cangkir teh ku yang sudah lebih dari dua kali diisi penuh kini sudah kosong kembali, sedangkan cangkirnya seperti belum disentuh. Yah.., aku sudah mempersilakannya untuk minum makan sesukanya. Kalau memang tidak mau, ya aku tak memaksa.

    Malam itu aku meminjamkan satu-satunya kamar tidur untuknya beristirahat sedangkan aku cukup rebahan di sofa ini, toh sudah sering aku tertidur disini. Lagipula aku tidak takut ia bermaksud buruk, harta benda paling berharga dirumah ini selain jam tangan mendiang kakek yang selalu melingkar di pergelanganku, hanyalah komputer usangku serta setumpuk buku-buku dan majalah. Memangnya benda apalagi yang bisa dibeli oleh penghasilanku yang pas-pasan yang lebih sering kuhabiskan untuk berpetualang berkemah di negeri orang.

    “Apakah kamu akan mencobanya lagi?” Beliau tiba-tiba bertanya.

    Aku mengangguk mengiyakan. Yang dimaksud beliau adalah ceritaku tentang ‘terbangun saat tidur’. Begitu aku mendefinisikannya, mungkin hampir seperti pengalaman yang disebut out of body, tapi aku tidak bisa berjalan keluar dari “tubuhku”. Hanya bisa merasakan bahwa aku sedang tidur namun aku bisa merasakan keadaan sekelilingku layaknya terjaga, hal ini pun hanya berlangsung beberapa saat. Aku bercerita padanya tentang keinginanku untuk mencoba terbebas dari “cangkang” fana ini, membayangkan terbang bebas pada langit malam, dan melihat dibalik alam kebendaan. Saat aku menceritakan hal ini beliau hanya mengangguk, kurasa tidak paham akan pengetahuan seperti ini. Dia hanya mengatakan ingin melihatnya, “Memangnya apa yang bisa dilihat..” batinku.

    Saat aku mulai terpejam,ia tidak beranjak dari duduknya. Sayup-sayup aku melihatnya membuka tas tangan yang sejak tadi disimpan disampingnya duduk. Membuka kain persegi di atas meja tamuku, menaruh lilin pendek diatasnya, menyalakannya, kemudian entah apalagi yang ia lakukan. Dan berikutnya wewangian aneh merebak, mengantarkanku tidur malam itu… yang membuatku berhasil! Aku bisa melayang dan melihat tubuhku sendiri terbaring dibawahku. Aku mendapatkan keinginanku, namun kemudian sesuatu diluar perkiraanku terjadi. Di bawahku, tubuhku membuka mata dan tersenyum kepadaku! Senyum yang sama seperti yang kulihat beberapa jam lalu di depan pintu rumahku.

    ***

    Diriku malam itu menggosok hidungnya yang memerah sembari melihat menembus jendela ke halaman belakang rumah tempat tubuh tuanya yang dulu kini terbaring untuk selamanya disana. Tampaknya hanya alergi bulu binatang itu yang ia tidak suka dari jasad barunya… 

    http://kemudian.com/node/258768

    cerita

  4. “The original power of design to create an utopia must be recovered. If this is the allegory of the potential transformation,the message must reach many people as possible. The people who are aware that our environment is being alienated, must continue as leaders in it transformation. At present, mechanism driven by the information revolution will swallow any idea that is vomited up in the form of merchandise. Over coming decades, the first requirement will be to discover suitable approaches capable of isolating the idea of transformation from superfluous issues. To do this, the ideal concept will have to be distinguished from all those generated by irresponsible approaches, which reject or trivialize the impulse towards utopia and in so doing render any involvement of the people possible. In the meaning time, it would be worth the effort to provoke a general acceptance of the principle that ‘ethics must guide all design’ ( a code similar to the Hippocratic oath)” -Enzo Mari  

  5. Teori Random :

    Memasak dan menggambar punya satu kesaaman. Mereka sama-sama menyampaikan emosi pembuatnya. Kemampuan2 akrobatik pancake, menyamakan waktu oven dengan detak jantung lu, atau tungku kayu tradisional yang lu buat sendiri khusus untuk meresapkan aroma rempah, dan macam-macam lain, memang bisa menentukan kualitas si masakannya. Tapi ketika perasaan sang pembuat pun tercermin di dalamnya, hal ini lah yang menyebabkan masakan rumah, dimanapun rumahnya, sejago apapun skill yang masaknya, selama dia bikinnya sepenuh hati; maka masakan rumah akan selalu khas, masuk ke dalam memori  dan memiliki kehangatan tersendiri. Amin.

  6. Another Essential Skill in Life

    Sore tadi sebuah pertanyaan ringan tapi cukup ‘menggangu’ keluar.. “Gimana caranya menulis hal yang engga kita tau?”. Berawal dari seorang teman yang tugasnya belon kelar-kelar. Bisa dibilang terdengar agak musykil, tapi percaya atau tidak, sadar ataupun tidak sadar kurang lebih mungkin sekali mungkin lebih dari sekali kita pernah. Mungkin juga engga, tapi ya udahlah gw anggap aja pernah.

    Nah, contoh kasus: Lu adalah seorang calon sarjana, yang seharusnya udah ga lagi berurusan sama masalah duniawi anak dewasa muda labil macam ujian tengah semester, perploncoan, atau ga hapal ruangan kuliah. Yeaah, lu kenal banget kampus lu sebagaimana lu kenal betul kamarlu. hapal dimana tempat dimana bisa tidur, wc, komputer, tempat makan, tempat duduk2.Tapi ternyata di saat wisuda sudah hanya terhalang tugas akhir, lu baru sadar halangan lain: SKS kurang!

    Alhasil, lu terpaksa ikut kuliah-kuliah sampingan. Walaupun tetap sebagai ‘orang tua’ yang secara habitual sudah tidak sama kuatnya dengan anak-anak muda antusias, kuliah sampingan penambah sks yang rata2 di mulai pagi hari tidak bisa dipenuhi contrengan absennya. Saat itulah saat dimana lu musti bikin paper tentang materi-materi yang belom pernah jadi perhatian lu seumur-umur: Feminisme-lah, Ego seniman-lah, dsb. dalam waktu singkat dengan konten padat berikut teori personal yang tepat. Inilah saat dimana salah satu skill hidup essential bernama bagaimana cara menulis hal yang tidak kita ketahui berguna. Bagaimana caranya??…. Ok, More on this subject later!

    Sebab gw musti melakukan itu sekarang :)

  7. gregmelander:

EXPERIENCE DESIGN PYRAMID
This may seem a bit academic but for me it is pretty fundamental to remember when doing experience design.  I put this checklist together to remind me why some experiences fail. Usually they are missing one or more parts of this experience design pyramid.  Do all 6 and your experience is like magic!

    gregmelander:

    EXPERIENCE DESIGN PYRAMID

    This may seem a bit academic but for me it is pretty fundamental to remember when doing experience design.  I put this checklist together to remind me why some experiences fail. Usually they are missing one or more parts of this experience design pyramid.  Do all 6 and your experience is like magic!

  8. thingsorganizedneatly:

Todd McLellan - Disassembled Pentax Camera

    thingsorganizedneatly:

    Todd McLellan - Disassembled Pentax Camera

  9. thingsorganizedneatly:

“The Visual Topography of a Generation Gap”
“A copy was made from my original apartment key, then a copy was made from that copy. This process was repeated until the original keys information was destroyed, resulting in the topography of a generation.”-Dan Bejar

    thingsorganizedneatly:

    “The Visual Topography of a Generation Gap”


    “A copy was made from my original apartment key, then a copy was made from
    that copy. This process was repeated until the original keys information was
    destroyed, resulting in the topography of a generation.
    -Dan Bejar